BOJONEGORO, 15 Mei 2026 — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Backstagers Indonesia Event Management Association Jawa Timur resmi menggelar kegiatan NGOPI (Ngobrol Penuh Inspirasi) pada Jumat, 15 Mei 2026. Bertempat di Greenwood Coffeshop, Perumahan Pandawa Land, Pacul, Kecamatan Bojonegoro, forum diskusi informal ini dimulai pukul 14.30 WIB hingga selesai.
Dengan mengusung tema “Satu Frekuensi, Satu Industri”, agenda ini menjadi wujud nyata komitmen strategis asosiasi dalam mengawal, mengedukasi, dan memperkuat ekosistem industri event management serta ekonomi kreatif di tingkat regional, khususnya melalui Bidang Edukasi Industri dan Bidang Keanggotaan.
Diskusi dipimpin langsung oleh empat narasumber kompeten yang merupakan jajaran inti pengurus DPD Backstagers Jawa Timur yaitu:
Kegiatan NGOPI dirancang khusus sebagai forum diskusi lintas pelaku industri untuk berbagi pengalaman, memperluas jaringan profesional, serta memperkuat koneksi di balik layar dunia event. Bojonegoro dipilih sebagai tuan rumah kali ini dalam rangka program aktif DPD Jawa Timur untuk mendekatkan organisasi secara inklusif kepada para pelaku industri di berbagai daerah.
Diskusi dipimpin langsung oleh empat narasumber kompeten yang merupakan jajaran inti pengurus DPD Backstagers Jawa Timur yaitu:

Lukman Sadaya
Ketua DPD Jawa Timur
(Allinone Indonesia)

Hendra Mardhika
Ketua Harian DPD
Jawa Timur
(Squad Indonesia)

Toufan Widhi H
Sekretaris DPD Jawa Timur
(Kinetic Indonesia)

Amir Syaifuddin
Bendahara DPD Jawa Timur
(Imagine Promosindo)
Industri Event Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi: Data dan Fakta
Dalam forum ini, Backstagers Jawa Timur memaparkan bahwa event bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan sebuah instrumen investasi dan penggerak ekonomi lintas sektor yang menghubungkan tenaga kerja berbasis proyek, UMKM vendor, venue, perhotelan, logistik, hingga subsektor kreatif lainnya. Berdasarkan dokumen Whitepaper Industri Event 2026-2030 yang diterbitkan oleh Aliansi Industri Event Nasional pada April 2026, berikut adalah data pembanding dampak ekonomi yang dihadirkan industri ini:
1. Baseline Data & Skala Industri
- Global (2019): Mencatat 1,6 miliar peserta di lebih dari 180 negara dengan direct spending menembus USD 1,15 triliun dan memberikan dampak multiplier effect sebesar 2,36x dari pengeluaran langsung.
- Indonesia (Baseline 2017): Menyumbang dampak total output sebesar USD 12,8 miliar, kontribusi PDB (GDP) USD 78 miliar serta menopang hingga 278.000 lapangan pekerjaan
- Konteks Regional ASEAN: Indonesia mencatatkan angka direct spending tertinggi di ASEAN sebesar USD 6,3 miliar, mengungguli Thailand (USD 4,2 miliar) dan Singapura (USD 3,7 miliar).
2. Realitas Dampak Event Besar di Indonesia
Asosiasi juga memaparkan komparasi data nyata dampak ekonomi dari berbagai mega-event:
- KTT G20 Bali 2022: Menghasilkan output ekonomi Rp76 triliun dan membuka 57.273 lapangan kerja
- Asian Games Jakarta 2018: Menyumbang Rp223 triliun terhadap PDB nasional
- Konser Coldplay Jakarta (1 Hari): Menghasilkan output ekonomi Rp843,29 miliar, berbanding dengan Coldplay Singapura (6 Hari) yang mendatangkan output Rp46 triliun bagi ekosistemnya.
3. Bukti Terukur Alat EEC v1.0 (Studi Kasus IVES 2023)
Melalui instrumen Event Economic Calculator (EEC) v1.0 milik Backstagers yang kompatibel dengan Tabel Input-Output BPS 2020, terbukti pada pergelaran Indonesia Event Management Summit (IVES) 2023 mampu menciptakan dampak ekonomi langsung Rp6,21 miliar, total output Rp11,05 miliar, serta menyerap 617 pekerjaan dengan Benefit-Cost Ratio (BCR) berada di angka 1,89x – 1,95x. Hal ini membuktikan secara empiris bahwa satu event mampu menggerakkan miliaran rupiah ekonomi lokal.
Menjawab Tantangan Reformasi dan Standarisasi Industri
Di balik potensinya yang masif, industri event masih menghadapi tantangan regulasi dan kesenjangan standar. Forum NGOPI ini hadir sebagai jembatan edukasi di daerah untuk mengurai 12 isu kunci reformasi industri, seperti persepsi birokrasi yang kerap mereduksi esensi event sebatas urusan teknis tenda dan sound system, atau sistem penganggaran pemerintah yang belum berpihak pada brainware kreatif
Ditambah lagi, adanya efisiensi anggaran lewat Inpres Nomor 1 Tahun 2025 dikhawatirkan membuka celah bagi kehadiran event organizer oportunistik yang mengabaikan kualitas. Oleh karena itu, keanggotaan asosiasi resmi dinilai krusial sebagai infrastruktur verifikasi profesional, kode etik, dan quality assurance yang dapat membantu pihak kepolisian (Polri) dalam menilai kredibilitas perizinan berbasis risiko (Risk Assessment)
Asosiasi juga menyoroti aspek perlindungan tenaga kerja. Berdasarkan data BPS 2024, sebesar 56% struktur kerja Indonesia didominasi sektor informal. Di industri event, pekerja lepas (Freelancer Tier 5) seperti stage crew, MC, dan kru teknis harian menjadi kelompok rentan yang mayoritas belum terlindungi BPJS Ketenagakerjaan maupun kontrak tertulis. Edukasi dan advokasi dari asosiasi ditargetkan mampu menjadi garis depan perlindungan kelompok tersebut
"NGOPI bukan sekadar ngobrol santai. Ini adalah langkah nyata kami sebagai asosiasi untuk hadir, mendengar, dan bersama-sama membangun ekosistem industri event yang sehat dan berkelanjutan di seluruh Jawa Timur, termasuk di Bojonegoro. Data dalam Whitepaper Backstagers 2026-2030 telah membuktikan bahwa industri event adalah infrastruktur ekonomi, bukan sekadar pos biaya. Dan kami berkomitmen membawa pemahaman itu sampai ke daerah"
LUKMAN SADAYA
Ketua DPD Backstagers Indonesia Jawa Timur
"Kami membawa semangat Satu Frekuensi, Satu Industri ke Bojonegoro karena kami percaya bahwa potensi industri event di daerah ini luar biasa. Data menunjukkan bahwa satu event saja bisa menciptakan ratusan lapangan kerja dan menggerakkan miliaran rupiah ekonomi lokal. Forum ini adalah jembatan agar pelaku industri di daerah juga memahami dan turut mengawal ekosistem ini bersama kami."
HENDRA MARDHIKA
Ketua Harian DPD Backstagers Indonesia Jawa Timur
Komitmen Berkelanjutan Menuju Sensus Ekonomi 2026
Ke depan, DPD Backstagers Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus menggulirkan program NGOPI di berbagai kota dan kabupaten lain di Jawa Timur secara adaptif.
Secara momentum, program ini juga didorong guna memastikan agar seluruh data pelaku industri event di Jawa Timur dapat terekam secara komprehensif dalam Sensus Ekonomi BPS Mei 2026. Langkah ini dinilai sebagai jendela kebijakan krusial sepuluh tahunan yang akan menentukan potret statistik, arah kebijakan, serta masa depan industri event nasional demi mewujudkan visi Indonesia sebagai ASEAN Event Hub